METAFISIKA
Metafisika merupakan bagian dari
aspek ontologi dalam kajian filsafat. Konsepsi metafisika berasal dari bahansa
Inggris : metaphysics, Latin :metaphysica dari Yunani metaphysica (sesudah
fisika); dari kata meta (setelah, melebihi) dan physikos (menyangkut alam) atau
physis (alam). Metafisika berasal dari kata meta (di balik, tersembunyi) dan
fisika (dunia yang tampak). Metafisika adalah bagian dari filsafat ilmu yang
memperlajari di balik realitas. Salah satu buku filsafat menyebutkan bahwa
metafisika berarti “di balik yang ada”. Kedudukan metafisika dalam filsafat
ilmu sangat kuat. Metafisika sudah merupakan sebuah cabang ilmu tersendiri
dalam pergulatan filosofis. Setiap telaah filosofis terdapat unsur metafisik.
Metafisika merupakan bagian
falsafah tentang hakikat yang ada di balik fisika (yang nampak). Hakikat
tersebut biasanya bersifat abstrak dan di luar jangkauan pengalaman manusia
biasa. Matafisika secara prinsip mengandung konsep kajian tentang sesuatu yang
bersifat rohani dan tidak dapat diterangkan dengan kaidah penjelasan yang
ditemukan dalam ilmu yang lain.
Metafisika merupakan cabang
filsafat umum yang bertugas mencari jawaban tentang yang “ada”, yaitu filsafat yang
memburu hakikat sesuatu yang ada, atau menyelidiki prinsip-prinsip utama. Yang
dimaksud dengan “yang ada” atau “being” ialah segala sesuatu yang ada dan
mungkin ada. Adapun mengenai yang ada itu dibedakan menjadi tiga macam :
·
Ada dalam objektif atau
ada dalam kenyataan, artinya dapat diketahui dengan panca indra manusia;
·
Ada dalam angan-angan
atau ada dalam pikiran; dan
·
Ada dalam kemungkinan.
Hidup manusia dikelilingi suasana ketiga hal itu,
sehingga mewujudkan ada yang sesungguhnya.
Dalam perkembangannya, cabang
metafisika yang membicarakan hakikat sesuatu yang ada, maka penyelidikannya
menjadi lebih khusus, sehingga timbul subcabang metafisika yaitu ontology,
kosmologi, dan anthropologi. Untuk mendeskripsikan secara lebih jelas posisi
dan kedudukan metafisika, dapat dikemukakan bahwa ilmu pengetahuan dan
pemikiran manusia melewati 3 jenis tahapan yaitu :
·
Abstraksi pertama,
yaitu fisika, menggariskan bahwa manusia berpikir ketika mengamati secara
indrawi. Dengan berpikir, akal dan budi kita “melepaskan diri” dari pengamatan
indrawi tertentu yaitu “materi yang dapat dirasakan”. Dari hal-hal yang
pertikular dan nyata, ditarik daripadanya hal-hal yang bersifat umum ; itulah
proses abstraksi dari cirri-ciri individual. Akal budi manusia, bersama materi
yang “abstrak” itu, menghasilkan ilmu pengetahuan yang disebut “fisika”
(“physos” = alam)
·
Abstraksi kedua, yakni
matematis. Ini terjadi ketika manusia dapat melepaskan diri dari materi yang
kelihatan. Itu terjadi kalau akal budi melepaskan dari materi hanya segi yang
dapat dimerngerti. Ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh jenis abstraksi dari semua
ciri material ini disebut “matesis” (“matematika” – mathesis = pengetahuan,
ilmu).
·
Abstraksi ketiga,
teologi atau “filsafat pertama”. Dengan meng-“abstrahere” dari semua materi dan
berpikir tentang seluruh kenyataan, tentang asal dan tujuannya, tentang asas
pembentukannya, bersifat teleology, asas pertama dalam mendapatkan hakikat
realitas dan sebagainya. Pemikiran pada aras ini menghasilkan ilmu pengatahuan
yang disebut teologi atau “filsafat pertama”. Akan tetapi kerena pengetahuan
ini “datang sesudah” fisika, maka tradisi selanjutnya disebut metafisika.
Sejajar dengan konsep tersebut wilayah filsafat
dibagi dalam tiga tingkatan, yakni:
·
First
order criteriologi meliputi metafisika,
epistemology, aksiologi, dan logika.
·
Second
order criteriologi meliputi etika,
filsafat ilmu, filsafat bahasa, filsafat pikiran.
·
Third
order criteriologi meliputi filsafat
hukum, filsafat pendidikan, filsafat sejarah, dan lain-lain.
Metafisika secara tradisional
didefinisikan sebagai pengetahuan tentang pengada (being). Di sini metafisika merupakan upaya untuk menjawab problem
tentang realitas yang lebih umum, komprehensif, atau lebih fundamental daripada
ilmu dengan cara merumuskan fakta yang paling umum dan luas tentang dunia
termasuk penyebutan katagori yang paling dasar dan hubungan di antara kategori
tersebut.
Metafisika sebagai ilmu mempunyai
objeknya tersendiri. Hal ini yang membedakannya dari pendekatan rasional yang
lain. Objek telaahan metafisika berbeda dari ilmu alam, matematika, atau ilmu
kedokteran. Metafisika berbeda pula dari cabang filsafat lain, seperti filsafat
alam, epistemology, etika, dan filsafat ketuhanan.
Nama metafisika yang diberikan pada
karya Aristoteles dapat dilihat dari beberapa segi :
a. Metafisika
sebagai etiket bibliografis atas karya Aristoteles,
b. Metafisika
dari segi pedagonis, dalam tanggapan ini, metafisika adalah ilmu yang sulit dan
wajar diajarkan sesudah fisika (tentu saja fisika dalam arti yang diberikan
oleh Aristoteles)
c. Metafisika
dalam arti filosofis. Pada abad pertengahan, istilah metafisika mempunyai arti
filosofis. Metafisika oleh para filsuf Skolastik diberi arti filosofis dengan
mengatakan bahwa metafisika ialah ilmu tentang yang ada, karena mencul sesudah
dan melebihi yang fisika (physicam et
supra physicam). Istilah sesudah
yang dimaksudkan di sini ialah bahwa objek metafisika sendiri berada pada
abstraksi ketiga. Metafisika sebagai abstraksi datang sesudah fisika dan
matematika. Kata melebihi tidak
menunjukkan unsur special, ruang. Kata melebihi
berarti metafisika melebihi abtraksi yang lain, menempati posisi tertinggi dari
semua kegiatan abstraksi, karena menempati jenjang abstraksi paling akhir.
Keberatan terhadap pandangan ini
ialah bahwa metafisika sama saja dengan pengetahuan yang bersifat metaempiris,
yakni studi mengenai “sesuatu” (ada) yang mengatasi fenomen atau mengatasi
realistis fisik yang tampak. Demikianlah sedikit penjelasan dari pengertia
metafisika. Metafisika adalah salah satu cabang filsafat yang mempelajari dan
memahami mengenai penyebab segala sesuatu sehingga hal tertentu menjadi ada.
Metafisika berasal dari bahasa
Yunani ta meta ta physica yang
artinya “yang datang setelah fisika”. Metafisika yang sering disebut sebagai
disiplin filsafat terumit dan memerlukan daya abstraksi sangat tinggi (ibarat
seorang mahasiswa untuk mempelajarinya menghabiskan beribu-ribu ton beras),
bermetafisika membutuhkan energi intelektual yang sangat besar sehingga membuat
tidak semua orang berminat menekuninya. Hubungannya dengan teori kemunikasi,
metafisika berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut :
·
Sifat manusia dan
hubungannya secara kontekstual dan individual dengan realita dalam alam
semesta;
·
Sifat dan fakta bagi
tujuan, perilaku, penyebab dan aturan;
·
Problem pilihan,
khususnya bebebasan versus determinase pada prilaku manusia.
Pentingnya metafisika bagi
pembahasan filsafat komunikasi, dikutip dari pendapat Suriasumantri (1983)
dalam bukunya “filsafat Ilmu” mengatakan bahwa metafisika merupakan suatu
hakikat tentang keberadaan zat, hakikat pikiran, dan hakikat kaitan zat dengan
pikiran.
Metafisika adalah sebuah kekuatan
yang terletak pada kekuatan mental, akal pikiran, hati, jiwa serta semua fisik
tubuh manusia, yang mana manusia bisa membangkitkan kinerja semua unsur tubuh
mereka, maka mereka memiliki kekuatan yang sangat dahsyat.
A. Hubungan
antara Filsafat Ilmu dan Metafisika
Kedudukan
metafisika dalam dunia filsafat sangat kuat. Pertama, metafisika merupakan
sebuah cabang ilmu tersendiri dalam pergulatan filosofis. Kedua, telaah
filosofis terdapat unsur metafisik merupakan hal yang signifikan dalam kajian
filsafat. Ini tentu sejajar dengan signifikannya yang menyebut bahwa filsafat
adalah induk dari segala ilmu.
Menurut
Kattsoff, metafisika termasuk salah satu dari cabang-cabang filsafat yaitu
hal-hal yang terdapat sesudah fisika, hal yang terdapat d balik yang nampak.
Metafisika oleh Aristoteles disebut sebagai ilmu pengetahuan mengenai yang ada
sebagai yang ada, yang dilawankan dengan yang ada sebagai yang digerakkan atau
yang ada sebagai yang dijumlahkan. Kita dapat mendefinisikan metafisika sebagai
bagian pengetahuan manusia yang berkaitan dengan pertanyaan mengenai hakikat
yang ada yang terdalam. Secara singkat, dapat dinyatakan bahwa
pertanyaan-pertanyaan ini menyangkut persoalan kenyataan sebagai kenyataan, dan
berasal dari perbedaan yang cepat disadari oleh setiap orang, yakni perbedaan
antara yang tampak (apprence) dengan yang nyata (reality).
Dalam
filsafat ilmu menurut Persons (Ismaun:2004) dalam studinya melakukan pendekatan
salah satunya adalah pendekatan metafisika, yang bersiifat intransenden. Moral
berupa sesuatu yang objektif universal.
Dalam
dimensi kajian filsafat ilmu dibagi menjadi dimensi ontologi, dimensi
epistemologi, dan dimensi aksiologis. Metafisika termasuk dalam objek kajian
pada dimensi ontologi. Metafisika merupakan cabang filsafat yang membicarakan
tentang hal-hal yang sangat mendasar yang berada di luar pengalaman manusia.
Metafisika mengkaji segala sesuatu secara komprehensif. Menurut Asmoro Achmadi
(2005:14), metafisika merupakan cabang filsafat yang membicarakan sesuatu yang
bersifat ‘keluarbiasaan’ (beyond nature),
yang berada di luar pengalaman manusia (immediate
experience). Menurut Achmadi, metafisika mengkaji sesuatu yang berada di
luar hal-hal yang biasa yang berlaku pada umumnya (keluarbiasaan), atau hal-hal
yang tidak alami, serta hal-hal yang berada d luar kebiasaan atau di luar
pengalaman manusia.
B. Objek
Kajian Metafisika
Metafisika
adalah cabang tertua dari filsafat, umurnya sama tuanya dengan filsafat itu
sendiri. Kelahirannya diawali oleh suatu ketertarikan untuk mengungkap misteri
dibalik realitas ini,sama dengan maksud istilahnya yaitu :meta berarti
dibalik,dan fisika yang berarti alam fisik . Yang dalam bahasa arab dimengerti
sebagai (apa yang ada dibalik fisik ) .Maka metafisika adalah pengetahuan
spekulatif filosofis tentang realitas,dimana pengetahuan spekulatif filosofis
itu dimaksudkan sebagai menjangkau sesuatu dibalik yang fisik.
Persoalannya apakah
pengetahuan spekulatif filosofis itu merupakan gambaran yang benar dari sesuatu
yang ada dibalik yang fisik?. Terhadap pertanyaan ini setidaknya ditemukan 2
pandangan : Pandangan pertama melihat bahwa berbagai peristiwa yang terjadi
pada alam nyata ini adalah wujud belaka dari apa yang terjadi dialam yang lebih
hakiki yang tempatnya berada jauh disana. Dalam sejarah filsafat Plato disebut
sebagai filsuf pertama yang berpandangan demikian. Dalam skema pemikiran Plato
ditemukan bahwa ia membagi dunia menjadi 2 yaitu: Dunia intelegible sebagai
dunia hakiki, dan dunia sensible sebagai dunia yang nyata yang sifatnya
sementara dan tidak hakiki. Pandangan kedua menyatakan bahwa yang dimaksud
dengan sesuatu dibalik yang fisik tidak lain merupakan alam pikiran manusia
tentang suatu alam yang dianggapnya sebagai alam lain itu. Alam pikiran yang
demikian inilah yang disebut Metafisika. Kedua pandangan diatas memang sulit
didamaikan dan akan tetap bertahan pada pendiriannya masing-masing. Hanya saja
dalam kajian filsafat pandangan yang pertama biasa disebut metafisika in the old fashion (metafisika klasik), sedangkan pandangan yang
kedua disebut metafisika in the new
fashion yakni metafisika dalam maknanya yang baru
Namun harus diakui
sejak abad 16 kajian metafisika tidak lagi menarik para ilmuan untuk
membahasnya, bagi mereka kajian adalah kuno dan merupakan tindakan kemunduran
ke abad pertengahan. Pemukul genderang pemikiran ini adalah filsuf August comte
dengan teorinya positivisme. Dalam teorinya itu August comte membagi sejarah
pemikiran manusia ke dalam 3 tahap : yaitu mitologi, metafisik dan positif. Karenanya
filsafat Comte disebut positivisme. Sampai saat ini kematian metafisika telah
mencapai angka 500 tahun,sebuah waktu
yang tidak bisa dikatakan pendek untuk sebuah ilmu dan baru sekitar 1 dasawarsa
terakhir ini kajian metafisika mulai diminati kembali bahkan menunjukkan
perkembangan yang cukup signiifikan.Bisa dikatakan bahwa dewasa ini metafisika
telah tampil dengan objek kajian yang lebih spesifik ,meski tetap pada sifat
dasarnya yaitu hanya melihat apa yang ada dibalik yang fisik.
Metafisika mengandung klasifikasi
yang meliputi, pertama Metaphysica
Generalis (ontology); ilmu tentang yang ada atau pengada. Metafisika umum
membahas mengenai yang ada sebagai yang ada artinya prinsip-prinsip umum yang
menata realitas. Metafisika umum untuk seterusnya digunakan istilah ontologi
mengakaji realitas sejauh dapat diserap oleh indra. Cabang utama metafisika
adalah ontology, studi mengenai kategorisasi benda-benda di alam dan hubungan
antara satu dan lainnya. Ahli metafisika juga berupaya memperjelas
pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia termasuk keberadaan, kebendaan,
sifat, ruang, waktu, hubungan sebab akibat dan kemungkinan.
Ontologi merupakan salah satu
kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut
membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit. Tokoh Yunani yang memiliki
pandangan yang bersifat ontologism ialah seperti Thales, Plato, dan
Aristoteles. Pada masanya kebanyakan orang belum membedakan antara penampakan
dengan kenyataan.
Kedua, Metaphysica Specialis atau metafisika khusus yaitu membahas penerapan prinsip-prinsip kedalam
bidang-bidang khusus teologi, kosmologi, dan antropologi. Metafisika khusus
mengkaji realitas yang tidak dapat diserap
oleh indra. Adapun metafisika khusus terdiri atas :
1. Teologi.
Teologi
adalah cabang filsafat yang merupakan bagian dari kajian metafisika. Teologi
merupakan pemikiran filosifis tentang persoalan ketuhanan. Hal ini sesuai
dengan makna dasarnya yang berasal dari 2 kata, yaitu Theo yang berarti tuhan
dan logy yang berarti ilmu .Jadi theology adalah ilmu yang mempelajari hal-hal
yang dikaitkan dengan ketuhanan. Maka dalam perjalanannya kajian teologi
membahas secara filosofis pokok-pokok agama sebagai hal-hal yang dikaitkan
dengan tuhan.
2. Cosmologi
Cosmologi
merupakan bagian dari kajian metefisika, terkait dengan pokok yang dibicarakan
cosmologi biasa disebut fisafat alam. Dilihat dari kata dasarnya cosmology
bersal dari kata cosmos yang berarti aturan atau keseluruhan yang
teratur,sebagai lawan kata dari chaos yang berarti kekacau-balauan. Maka
sebenarnya cosmologi adalah pengetahuan
filosofis tentang keteraturan alam.
3. Antropologi
Antropologi
merupakan salah satu bagian dari kajian metafisika. Berasal dari kata yunani
yaitu Anthropos yang berarti manusia. Antropologi merupakan bagian dari kajian
metafisika yang membicarakan soal hakikat manusia. Sepanjang sejarah filsafat
persoalan manusia terus menerus dicoba untuk diungkapkan. Telah banyak karya
mengenai apa sebenarnya yang disebut manusia itu, semakin digali dan diperdalam
persoalan manusia semakin menarik perhatian.Namun masih banyak teka-teki
mengenai manusia yang belum bisa terjawab juga bahkan sampai hari ini.
Jadi,
Metafisika umum membahas mengenai yang ada sebagai yang ada, artinya
prinsip-prinsip umum yang menata realitas. Sedangkan metafisika khusus membahas
penerapan prinsip-prinsip umum ke dalam bidang-bidang khusus : teologi,
kosmologi dan antropologi. Pemilahan tersebut didasarkan pada ada dapat
tidaknya diserap melalui perangkat indrawi suatu objek filsafat pertama.
Metafisika umum mengkaji realitas sejauh dapat diserap melalui indra sedang metafisika
khusus (metafisika) mengkaji realitas yang tidak dapat diserap indra, apakah
itu realitas ketuhanan (teologi), semesta sebagai keseluruhan (kosmologi)
maupun hakekat manusia (antropologi).
Objek metafisika menurut
Aristoteles, ada dua, yakni :
·
Ada sebagai yang ada;
ilmu pengetahuan mengkaji yang ada itu dalam bentuk semurni-murninya, bahwa
suatu benda itu sungguh-sungguh ada dalam arti kata tidak terkena perubahan,
atau dapat diserapnya oleh pancaindra. Metafisika disebut juga ontologi.
·
Ada sebagai yang
Illahi; keberadaan yang mutlak yang tiada bergantung pada yang lain, yakni
Tuhan (Illahi berarti yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindra).
Epistemologi; merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode
dan batasan pengetahuan manusia (a branch
of philosophy that investigates the origin, nature, methods ans limits of human
knowledge)
Dengan
membincangkan metafisika member pemahaman bahwa filsafat mencakup “segalanya”.
Filsafat datang sebelum dan sesudah ilmu pengetahuan. Disebut “sebelum” karena
semua ilmu pengetahuan khusus mulai sebagai bagian dari filsafat dan disebut
“sesudah” karena ilmu pengetahuan khusus pasti menghadapi pertanyaan tentan
batas-batas dari kekhususannya. Maka metafisika memiliki ruang lingkup pokok
bahasan yang mencakup :
·
Pertama tentang kajian
ikuiri keapa yang ada (exist), atau
apa yang betul-betul ada,
·
Kedua tentang, ilmu
pengetahuan tentang realitas, sebagai lawan dari yang tampak (appearance),
·
Ketiga, studi tentang
dunia secara menyeluruh dengan segala teori tentang asas pertama (first principle); prima causa yang wujud
di alam (kosmos).
C. Pengaruh
Tentang Kajian Metafisika dalam kehidupan dan dalam pengembangan ilmu
pengetahuan
1.
Metafisika dan
Pengalaman Hidup
Filsafat termasuk metafisika,
merupakan ilmu yang menentang arus, dalam arti cara kerjanya lumayan berbeda
dari cara kerja ilmu pengetahuan yang lainnya. Dengan filsafat (metafisika)
orang dapat menunjukkan bahwa manusia tidak hanya sekedar makhluk yang bisa
makan, menikmati kenakan dunia dan alam semesta. Filsafat bertugas tidak lain
menggemakan kenyataan. Dengan berfilsafat, manusia menggemakan lagi nada
metafisik kenyataanya yang sudah pudar oleh hingar-bingarnya perjuangan
memenuhi kebutuhan fisik belaka. Filsafat terus dan tidak bosan-bosannya menggemakan
suara kebenaran dan kebaikan, yang hamper sirna oleh pertarungan kepentingan
sesaat manusia dan usaha menipulasi yang sering tidak terkendali.
Sebagai manusia yang dari kodratnya
berakal budi kita semua mempunyai kemampuan filosofis. Dengan akalnya, manusia
mencari rumusan baru tentang kenyataan fisik dan metafisik. Dalam perumusan
sudah tersirat tanda bahwa manusia tidak terikat oleh apa yang kini
dipegangnya, karena perumusan merupakan kegiatan abstraksi dari kenyataan.
Filsafat dalam kedudukannya sebagai salah satu ilmu, bertugas mengeksplisitkan
prinsip hidup yang sedikit banyak masih implisit adanya dalam diri setiap
orang. Filsafat ingin mengangkat ke permukaan kebijaksanaan hidup yang lebih
sering didominasi oleh keputusan kepentingan tertentu. Metafisika akan
menemukan jawaban dari ketidakpastian hidup, yang mungkin ada.
Filsafat (metafisika) tidak pernah
berangkat dari dunia awang-awang atau khayalan. Titik tolaknya selalu
pengalaman nyata inderawi. Pengalaman itu disistematisasi. Kemudian berdasarkan
pengalaman itu, dibangun refleksi yang spesifik. Filsafat mengangkat pengalaman
hidup untuk mencari prinsip-prinsip dasar. Dengan demikian diharapkan bahwa
kita sampai pada Sang Illahi yang disbut Allah oleh orang yang beragama. Selain
itu, dengan mendasari keterbatasan daya piker manusia, metafisika mengajarkan
pada kita kebijaksanaan hidup. Hidup perlu ditangkap dalam keseluruhannya,
tetapi tidak berarti kita memahami kehidupan itu secara tuntas.
Dari
segi bahasa, metafisika bersifat integratif dan indikatif. Dengan metafisika
kita berusaha menyatakan semua pengalaman kita dengan mengangkat dasarnya yang
paling dalam.
Dunia
metafisik kadang-kadang tidak terjangkau oleh nalar orang biasa. Pengalaman
metafisik merupakan wilayah batin yang dikongkretkan ide-ide yang lahir dari
indrawi manusia, selanjutnya diaktualisasi lewat kata-kata. Kata yang bersifat
metafisik, akan mengantarkan manusia berpikir di balik realitas.
2.
Metafisika dalam
Pengembangan Ilmu
Manusia mempunyai
beberapa pendapat mengenai tafsiran metafisika. Tafsiran yang pertama yang
dikemukakan oleh manusia terhadap alam ini adalah bahwa terdapat hal-hal gaib
(supranatural) dan hal-hal tersebut bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa
dibandingkan dengan alam yang nyata.Pemikiran seperti ini disebut pemikiran
supernaturalisme.Dari sini lahir tafsiran-tafsiran cabang misalnya
animisme.Selain faham diatas, ada juga paham yang disebut paham
naturalisme.Paham ini amat bertentangan dengan paham supernaturalisme.Paham
naturalisme menganggap bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh hal-hal
yang bersifat gaib, melainkan karena kekuatan yang terdapat dalam itu sendiri,
yang dapat dipelajari dan diketahui.Orang orang yang menganut paham naturalisme
ini beranggapan seperti itu karena standar kebenaran yang mereka gunakan
hanyalah logika akal semata, sehingga mereka menolak keberadaan hal-hal yang
bersifat gaib itu.Dari paham naturalism ini juga muncul paham materialisme yang
menganggap bahwa alam semesta dan manusia berasal dari materi.Salah satu yang
menggap bahwa alam semesta dan manusia berasal dari materi.Salah satu
pencetusnya ialah Democritus (460 – 370 SM).Adapun
bagi mereka yang mencoba mempelajari mengenai makhluk hidup.Timbul dua tafsiran
yang masih saling bertentangan yakni paham mekanistik dan paham vitalistik.Kaum
mekanistik melihat gejala alam (termasuk makhluk hidup) hanya merupakan gejala
kimia-fisika semata. Sedangkan bagi kaum vitalistik hidup adalah sesuatu yang
unik yang berbeda secara substansif dengan hanya sekedar gejala kimia-fisika
semata berbeda halnya dengan telah mengenai akal dan pikiran, dalam hal ini ada
dua tafsiran tang juga saling berbeda satu sama lain. Yakni faham monoistik dan
dualistic. Sudah merupakan aksioma bahwa proses berfikir manusia menghasilkan
pengetahuan tentang zat (objek) yang ditelaahnya. Dari sini aliran monoistik
mempunyai pendapat yang tidak membedakan antara pikiran dan zat. Keduanya
(pikiran dan zat) hanya berbeda dalam gejala disebabkan proses yang berlainan
namun mempunyai substansi yang sama. Perndapat ini ditolak oleh kaum yang
menganut paham dualistic.Dalam metafisika, penafsiran dualistic membedakan
antara zat dan kesadaran (pikiran) yang bagi mereka berbeda secara
subtsansif.Aliran ini berpendapat bahwa yang ditangkap oleh fikiran adalah bersifat
mental.Maka yang bersifat nyata adalah fikiran, sebab dengan berfikirlah maka
sesuatu itu lantas ada.
Metafisika
ternyata dapat penentangan dari beberapa ilmuan, antara lain adalah yang
menganut paham positivism dari paham positivism logis dengan menyatakan bahwa
metafisika tidak bermakna, Alfred, J. Ayer menyatakan bahwa sebagian besar
perbincangan yang dilakukan oleh para filosof sejak dahulu sesungguhnya tidak
dapat dipertanggungjawabkan dan juga tidak ada gunanya, problem yang diajukan
dalam bidang metafisika adalah problem semu, artinya permasalahan yang tidak
memungkinkan untuk dijawab, berkaitan dengan pendapat ayer tersebut, Katsoff
menyatakan bahwa agaknya ayer berupaya untuk menunjukan bahwa naturalism,
materialism, dan lainnya merupakan pandangan yang sesat, ayer menunjang
argumentasinya dengan membuat criterion
of verifiability atau keadaan dapat diverifikasi, penentang lain Luwig
Winttgenstien menyatakan bahwa metafisika bersifat the mystically, hal-hal yang tak dapat diungkapkan ke dalam bahasa yang
bersifat logis. Wittgenstien menyatakan terdapat tiga perosalaan dalam
metafisika :
a.
Subjek, dikatakanya
bukan merupakan dunia atau bagian dari dunia, melainkan lebih dapat dikatakan
sebagaibatas dari dunia
b.
Kematian,kematinan
bukanlah sebuah peristiwa dalam kehidupan, manusia tidak hidup untuk mengalami
pengalaman kematian
c.
Tuhan, ia tidak
menampakkan diri-Nya di dunia dengan demikian Wittgenstein menyimpulkan, bahwa
sesuatu yang tidak dapat diungkapkan secara logis sebaikna didiamkan saja.
Namun
pada kenyataanya banyak ilmuan besar, terutama albert Einstein yang merasakan
perlunya membuat formula konsepsi metafisika sebagai keonsekuensi dari penemuan
ilmiahnya, manfaat metafisika bagi pengembangan ilmu dikatakan oleh Thomas Kuhn
terletak pada awal terbetnuknya paradigm ilmiah, yakni ketika kumpulan
kepercayaan belum lengkap faktanya, maka ia mesti dipasok dari luar, antara
lain adalah ilmu pengetahuan lain, peristiwa sejarah, pengalaman personal, dan
metafisika. misalnya adalah upaya-upaya untuk memecahkan masalah yang tak dapat
dipecahkan oleh paradigm keilmuan yang lama dan selama ini dianggap mampu
memecahkan masalah dan membutuhkan paradigm baru, pemecahan masalah baru, hal
ini hanya dapat dipenuhi dari hasil perenungan metafisika yang dalam banyak hal
memang bersifat spekulatif dan intuitif, hingga dengan kedalaman kontemplasi
serta imajinasi akan dapat membuka kemungkinan-kemungkinan atau peluang-peluang
konsepsi teoritis, asumsi, postulat, tesis dan paradigma baru untuk memecahkan
masalah yang ada.
Sumbangan
metafisika terhadapilmu pengetahuan tidak dapat disangkal lagi adalah pada
fundamental ontologisnya, sumbangan metafisika pada ilmu pengetahuan adalah
persinggunggan antara metafisika dan ontology dengan epistimologi. Dalam
metafisika yang mempertanyakan apakah hakikat terdalam dari kenyataan yang
diantaranya dijawab bahwa hakikat terdalam dari kenyataan adalah materi, maka
munculah paham materialism, sedangkan dalam epistimologi yang dimulai dari
pertanyaan bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan? yang dijawab salah
satunya oleh Descartes, bahwa kita memperoleh pengetahuan melalui akal, maka
munculah rasionalisme, John Locke yang menjawab pertanyaan tersebut bahwa
pengetahuan diperoleh dari pengalaman, maka ia telah melahirkan aliran
empirisme dan lainya berbagai perdebatan dalam metafisika mengenai realitas,
ada tidak dan lainya sebagaimana telah dikemukan di dalamyang telah melahirkan
berbagai pandangan yang berbeda satu sama lain secara otomatis juga melahirkan
berbagai aliran pemahaman yang lazim dinyatakan sebagai aliran-aliran filsafat
awal, ketika pemahaman-pemahaman aliran-aliran filsafat tersebut dipertemukan
dengan ranah epistimologi atau dihadapkan pada fenomena dinamika perkembanga
illmu pengetahuan.
Metafisika
menuntut orisinalitas berpikir yang biasanya muncul melalui kontemplasi atau
intuisi berupa kilatan-kilatan mendadak akan sesuatu, hingga menjadikan para
metafisikus menyodorkan cara berpikir yang cendertung subjektif dan menciptaan
terminology filsafat yang khas. situasi semacam ini dinyatakan oleh Van Peursen
sangat diperlukan untuk pengembangan ilmu dalam rangka menerapkan heuristika.
berkaitan dengan pembentukan minat intelektual, maka metafisika mengajarkan
mengenai cara berpikir yang serius dan mendalam tentang hakikat-hakikat segala
sesuatu yang bersifat enigmatik, hingga pada akhirnya melahirkan sikap ingin
tahu yang tinggi sebagaimana mestinya dimiliki oleh para intelektual.
Metafisika mengajarkan pada peminat filsafat untuk mencari prinsip pertama
sebagai kebenaran yang paling akhir.
Beberapa
ahli kemudian merumuskan beberapa manfaat filsafat ilmu dan metafisika dalam
pengembangan ilmu :
a.
Kontribusi metafisika
terletak pada awal terbentuknya paradigma ilmiah, ketika kumpulan kepercayaan
belum lengkap pengumpulan faktanya, maka ia harus dipasok dari luar, antara
lain : metafisika, sains yang lain, kejadian personal dan historis. (Kuhn)
b.
Metafisika mengajarkan
cara berfikir yang serius, terutama dalam menjawab promlem yang bersifat
enigmatif (teka-teki), sehingga melahirkan sikap dan rasa ingin tahu yang
mendalam.(Kennick)
c.
Metafisika mengajarkan
sikap open-ended, sehingga hasil sebuah ilmu selalu terbuka untuk temuan dan
kreativitas baru.(Kuhn)
d.
Perdebatan dalam
metafisika melahirkan berbagai aliran, mainstream seperti : Monisme, Dualisme,
Pluralisme, sehingga memicu proses ramifikasi, berupa lahirnya percabangan ilmu
(Kennick)
e.
Metafisika menuntut
orisinalitas berfikir, karena setiap metafisikus menyodorkan cara berfikir yang
cenderung subjektif dan menciptakan terminology filsafat yang khas. Situasi
semacam ini diperlukan untuk pengembangan ilmu dalamrangka menerapkan
heuristika.(Van Peursen)
f.
Metafisika mengajarkan
pada peminat filsafat untuk mencari prinsip pertama (First Principle) sebagai
kebenaran yang paling akhir. Kepastian ilmiah dalam metode skeptic Descartes
hanya dapat diperoleh jika kita menggunakan metode deduksi yang bertitik tolak
dari premis yang paling kuat (Cogito ergo sum) Skeptis-Metodis Rene Descartes
g.
Manusia yang bebas
sebagai kunci bagi akhir pengada, artinya manusia memiliki kebebasan untuk
merealisasikan dirinya sekaligus bertanggungjawab bagi diri, sesame, dan dunia.
Penghayatan atas kebebasan di satu pihak dan tanggungjawab di pihak lain
merupakan sebuah kontribusi penting bagi pengembangan ilmu yang sarat dengan
nilai (not value-free). (Bakker)
h.
Metafisika mengandung
potensi untuk menjalin komunikasi antara pengada yang satu dengan pengada yang
lain. Aplikasi dalam ilmu berupa komunikasi antar ilmuwan mutlak dibutuhkan,
tidak hanya antar ilmuwan sejenis, tetepi juga antar disiplin ilmu, sehingga
memperkaya pemahaman atas realitas keilmuwan.
Komentar
Posting Komentar