EPISTEMOLOGI
EPISTEMOLOGI
2.1. Pengertian
Epistemologi
Istilah “Epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu “episteme” yang
berarti pengetahuan dan ‘logos” berarti perkataan, pikiran,
atau ilmu. Kata “episteme” dalam bahasa Yunani berasal dari
kata kerja epistamai, artinya menundukkan, menempatkan, atau
meletakkan. Maka, secara harafiah episteme berarti pengetahuan
sebagai upaya intelektual untuk menempatkan sesuatu dalam kedudukan setepatnya. Bagi
suatu ilmu pertanyaan yang mengenai definisi ilmu itu, jenis pengetahuannya,
pembagian ruang lingkupnya, dan kebenaran ilmiahnya, merupakan bahan-bahan
pembahasan dari epistemologinya.
Epistemologi sering juga disebut teori pengetahuan
(theory of knowledge). Epistemologi lebih memfokuskan kepada makna pengetahuan
yang berhubungan dengan konsep, sumber, dan kriteria pengetahuan, jenis
pengetahuan, dan lain sebagainya.
Beberapa ahli yang
mencoba mengungkapkan definisi dari pada epistemologi adalah P. Hardono Hadi.
Menurut beliau epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba
menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasarnya,
serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.
Tokoh lain yang mencoba mendefinisikan epistemoogi adalah D.W Hamlyin, beliau
mengatakan bahwa epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan
hakikat dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengandaian – pengandaian serta
secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang
memiliki pengetahuan.[1]
Runes dalam kamusnya
menjelaskan bahwa epistemology is the branch of philosophy which
investigates the origin, stukture, methods and validity of knowledge.
Itulah sebabnya kita sering menyebutnya dengan istilah epistemologi untuk
pertama kalinya muncul dan digunakan oleh J.F Ferrier pada tahun 1854 (Runes,
1971-1994).[2]
2.2. Ruang Lingkup
Epistemologi
M. Arifin merinci ruang lingkup epistemologi, meliputi
hakekat, sumber dan validitas pengetahuan. Mudlor Achmad merinci menjadi enam
aspek, yaitu hakikat, unsur, macam, tumpuan, batas, dan sasaran pengetahuan.
Bahkan, A.M Saefuddin menyebutkan, bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang
harus dijawab, apakah ilmu itu, dari mana asalnya, apa sumbernya, apa
hakikatnya, bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar, apa kebenaran itu,
mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar, apa yang dapat kita ketahui, dan
sampai dimanakah batasannya. Semua pertanyaan itu dapat diringkat menjadi dua
masalah pokok ; masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu. Mengingat
epistemologi mencakup aspek yang begitu luas, sampai Gallagher secara ekstrem
menarik kesimpulan, bahwa epistemologi sama luasnya dengan filsafat. Usaha
menyelidiki dan mengungkapkan kenyataan selalu seiring dengan usaha untuk
menentukan apa yang diketahui dibidang tertentu.
Dalam pembahasa-pembahsan epistemologi, ternyata hanya
aspek-aspek tertentu yang mendapat perhatian besar dari para filosof, sehingga
mengesankan bahwa seolah-olah wilayah pembahasan epistemologi hanya terbatas
pada aspek-aspek tertentu. Sedangkan aspek-aspek lain yang jumlahnya lebih
banyak cenderung diabaikan.
M. Amin Abdullah menilai, bahwa seringkali kajian
epistemologi lebih banyak terbatas pada dataran konsepsi asal-usul atau sumber
ilmu pengetahuan secara konseptual-filosofis. Sedangkan Paul Suparno menilai
epistemologi banyak membicarakan mengenai apa yang membentuk pengetahuan
ilmiah. Sementara itu, aspek-aspek lainnya justru diabaikan dalam pembahasan
epistemologi, atau setidak-tidaknya kurang mendapat perhatian yang layak.
Namun, penyederhanaan makna epistemologi itu berfungsi
memudahkan pemahaman seseorang, terutama pada tahap pemula untuk mengenali
sistematika filsafat, khususnya bidang epistemologi. Hanya saja, jika dia ingin
mendalami dan menajamkan pemahaman epistemologi, tentunya tidak bisa hanya
memegangi makna epistemologi sebatas metode pengetahuan, akan tetapi
epistemologi dapat menyentuh pembahasan yang amat luas, yaitu komponen-komponen
yang terkait langsung dengan “bangunan” pengetahuan.[3]
2.3. Aliran-Aliran
Epistemologi
Ada beberapa aliran
yang berbicara tentang ini, diantaranya :
1. Empirisme
Kata empiris berasal
dari kata yunani empieriskos yang berasal dari kata empiria, yang
artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui
pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata yunaninya, pengalaman yang
dimaksud ialah pengalaman inderawi. Manusia tahu es dingin karena manusia
menyentuhnya, gula manis karena manusia mencicipinya.
John locke
(1632-1704) bapak aliran ini pada zaman modern mengemukakan teori tabula
rusa yang secara bahasa berarti meja lilin. Maksudnya ialah bahwa
manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi
jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan. Mula- mula tangkapan
indera yang masuk itu sederhana, lama-lama sulit, lalu tersusunlah pengetahuan
berarti.berarti, bagaimanapun kompleks (sulit)-nya pengetahuan manusia, ia
selalu dapat dicari ujungnya pada pengalaman indera. Sesuatu yang tidak dapat
diamati dengan indera bukan pengetahuan yang benar. Jadi, pengalaman
indera itulah sumber pengetahuan yang benar.
Karena itulah metode penelitian yang menjadi tumpuan
aliran ini adalah metode eksperimen. Kesimpulannya bahwa aliran empirisme lemah
karena keterbatasan indera manusia. Misalnya benda yang jauh kelihatan kecil,
sebenarnya benda itu kecil ketika dilihat dari jauh sedangkan kalau dilihat
dari dekat benda itu besar.
2. Rasionalisme
Secara singkat aliran
ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan
yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia, menurut aliran ini,
menmperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap objek. Bapak aliran ini
adalah Descartes (1596-1650). Descartes seorang filosof yang tidak puas dengan
filsafat scholastic yang pandangannya bertentangan, dan tidak ada kepastian
disebabkan oleh kurangnya metode berpikir yang tepat. Dan ia juga mengemukakan
metode baru, yaitu metode keragu-raguan. Jika orang ragu terhadap segala
sesuatu, dalam keragu-raguan itu jelas ia sedang berpikir. Sebab, yang sedang
berpikir itu tentu ada dan jelas ia sedang erang menderang. Cogito Ergo
Sun (saya berpikir, maka saya ada).
Rasio merupakan sumber kebenaran. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang
kepada kebenaran. Yang benar hanya tindakal akal yang terang benderang yang
disebut Ideas Claires el Distictes (pikiran yang terang
benderang dan terpilah-pilah). Idea terang benderang inilah pemberian tuhan
seorang dilahirkan ( idea innatae = ide bawaan). Sebagai pemberian tuhan, maka
tak mungkin tak benar. Karena rasio saja yang dianggap sebagai sumber
kebenaran, aliran ini disebut rasionlisme. Aliran rasionalisme ada dua macam ,
yaitu dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama , aliran
rasionalisme adalah lawan dari otoritas dan biasanya digunakan untuk
mengkritik ajran agama. Adapun dalam bidang filsafat, rasionalisme adalah
lawan dari empirisme dan sering berguna dalam menyusun teori pengetahuan .
3. Positivisme
Tokoh aliaran ini
adalah august compte (1798-1857). Ia menganut paham empirisme. Ia berpendapat
bahwa indera itu sangat penting dalam memperoleh pengetahuan. Tetapi harus
dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera
akan dapat dikoreksi lewat eksperimen. Eksperimen memerlukan ukuran-ukuran yang
jelas. Misalnya untuk mengukur jarak kita harus menggunakan alat ukur misalnya
meteran, untuk mengukur berat menggunakan neraca atau timbangan misalnya kiloan
. Dan dari itulah kemajuan sains benar benar dimulai. Kebenaran diperoleh
dengan akal dan didukung oleh bukti empirisnya. Dan alat bantu itulah bagian
dari aliran positivisme. Jadi, pada dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran
yang dapat berdiri sendiri. Aliran ini menyempurnakan empirisme dan
rasionalisme.
4. Intuisionisme
Henri Bergson
(1859-1941) adalah tokoh aliran ini. Ia menganggap tidak hanya indera yang
terbatasa, akal juga terbatas. Objek yang selalu berubah, demikian bargson.
Jadi, pengetahuan kita tentangnya tidak pernah tetap. Intelektual atau akal
juga terbatas. Akal hanya dapat memahami suatu objek bila ia mengonsentrasikan
dirinya pada objek itu, jadi dalam hal itu manusia tidak mengetahui keseluruhan
(unique), tidak dapat memahami sifat-sifat yang tetap pada objek. Misalnya
manusia menpunyai pemikiran yang berbeda-beda. Dengan menyadari kekurangan dari
indera dan akal maka bergson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang
dimiliki manusia, yaitu intuisi.[4]
5. Kritisme
Aliran ini muncul
pada abad ke-18 suatu zaman baru dimana seseorang ahli pemikir yang cerdas
mencoba menyelesaikan pertentangan antara rasionalisme dengan empirisme.
Seorang ahli pikir jerman Immanuel Kant (1724-18004) mencoba menyelesaikan
persoalan diatas, pada awalnya, kant mengikuti rasionalisme tetapi terpengaruh
oleh aliran empirisme. Akhirnya kant mengakui peranan akal harus dan keharusan
empiris, kemudian dicoba mengadakan sintesis. Walaupun semua pengetahuan
bersumber pada akal (rasionalisme), tetapi adanya pengertian timbul dari
pengalaman (empirime).
Jadi, metode
berpikirnya disebut metode kiritis. Walaupun ia mendasarkan diri dari nilai
yang tinggi dari akal, tetapi ia tidak mengingkari bahwa adanya
persoalan-persoalan yang melampaui akal.[5]
6. Idealisme
Idealisme adalah
suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami
dalam kaitan dengan jiwa dan roh. Istilah idealisme diambil dari kata ideayaitu
suatu yang hadir dalam jiwa. Pandangan ini dimiliki oleh plato dan pada
filsafat modern.
Idealisme mempunyai
argumen epistemologi tersendiri. Oleh karena itu, tokoh-tokoh teisme yang
mengajarkan bahwa materi tergantung pada spirit tidak disebut idealisme karena
mereka tidak menggunakan argumen epistemologi yang digunakan oleh idealisme.
Idealisme secara umum berhubungan dengan rasionalisme. Ini adalah mazhab
epistemologi yang mengajarkan bahwa pengetahuan apriori atau deduktifdapat
diperoleh dari manusia denganakalnya[6]
2.4. Pengaruh Epistemologi
Secara global epistemologi berpengaruh terhadap
peradaban manusia. Suatu peradaban, sudah tentu dibentuk oleh teori
pengetahuannya. Epistemologi mengatur semua aspek studi manusia, dari filsafat
dan ilmu murni sampai ilmu sosial. Epistemologi dari masyarakatlah yang
memberikan kesatuan dan koherensi pada tubuh, ilmu-ilmu mereka itu suatu
kesatuan yang merupakan hasil pengamatan kritis dari ilmu-ilmu dipandang dari
keyakinan, kepercayaan dan sistem nilai mereka. Epistemologilah yang menentukan
kemajuan sains dan teknologi. Wujud sains dan teknologi yang maju disuatu
negara, karena didukung oleh penguasaan dan bahkan pengembangan epistemologi.
Tidak ada bangsa yang pandai merekayasa fenomena alam, sehingga kemajuan sains
dan teknologi tanpa didukung oleh kemajuan epistemologi. Epistemologi menjadi
modal dasar dan alat yang strategis dalam merekayasa pengembangan-pengembangan
alam menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Demikian halnya yang terjadi pada teknologi. Meskipun teknologi sebagai
penerapan sains, tetapi jika dilacak lebih jauh lagi ternyata teknologi sebagai
akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi.
Epistemologi senantiasa mendorong manusia untuk
selalu berfikir dan berkreasi menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru.
Semua bentuk teknologi yang canggih adalah hasil pemikiran-pemikiran secara
epistemologis, yaitu pemikiran dan perenungan yang berkisar tentang bagaimana
cara mewujudkan sesuatu, perangkat-perangkat apa yang harus disediakan untuk
mewujudkan sesuatu itu, dan sebagainya.[7]
[2] Ahmad tafsir, 2009. filsafat umum
akal dan hati sejak thales sampai capra. Remaja Rosdakarya,
Bandung.hal 23
sampai capra.Bandung.
PT. Remaja Rosdakarya. Hal 24-28
[6] Hakim,
M.A. dan Drs. Bani Ahmad Saebani, M.Si. 2008. filsafat umum dari
metologi sampai teofilosofi. Pustaka Setia, Bandung. Hal 206
Komentar
Posting Komentar